Senyap (The Look of Silence): Mengoyak Belenggu Peristiwa 1965

Posted on

Review Senyap

“Bagaimana perasaan Mamak hidup dekat dengan pembunuh anak Mamak?”

Demikian Adi Rukun bertanya kepada ibunya. Mamak adalah saksi hidup penculikan dan pembantaian Ramli pada Peristiwa September 1965. Setelah disiksa, Ramli masih sempat pulang dengan usus terburai. Mamak ketakutan dan menyembunyikannya di dalam rumah. Keesokan pagi, beberapa tentara menjemput Ramli dengan mobil untuk “diobati”. Itulah terakhir kali Mamak melihat putranya.

Adi Rukun, 44 tahun, adalah anak dari sepasang suami isteri asal Jawa Timur yang menetap di salah satu desa di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Adi, yang tak lain adalah adik kandung Ramli, memutuskan untuk mengunjungi orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan anggota dan simpatisan PKI atau Gerwani. Adi Rukun hanyalah satu dari sekian banyak orang yang keluarganya menjadi korban dalam peristiwa 1965. Dalam tanda tanya tentang kebenaran sejarah, ia terus menelusuri fakta dan mencari penjelasan atas kebrutalan yang dilakukan oleh para penjagal.

Senyap2

Joshua Oppenheimer menghidangkan Senyap (The Look of Silence) dengan cerita yang mengalir. Dibanding kakaknya, Jagal (Act of Killing), Senyap menyajikan visual dan alur yang lebih memikat. Penonton dibuat terpaku dengan dialog singkat–namun menegangkan–antara Adi dan para pelaku yang terlibat dalam peristiwa pembantaian sang kakak. Ekspresi kecewa, sedih, marah, yang terekam jelas dari wajah Adi juga menjadi alasan lain untuk tidak sedetik pun mengalihkan pandangan dari layar.

Adi Rukun

Pada sebuah adegan, ditampilkan seorang guru Sekolah Dasar yang tengah menerangkan peristiwa September 1965 di dalam kelas. Kepada murid-muridnya, ia mengaitkan paham komunis dengan ateisme, serta memberi label “kejam dan tidak berperikemanusiaan” terhadap “orang-orang PKI”. Untuk memberikan efek dramatis–yang kemungkinan besar dimaksudkan agar para murid mudah ingat–sang guru juga menceritakan bagaimana para pelaku tega mencongkel mata korbannya. Sebuah gambaran nyata indoktrinasi melalui institusi pendidikan yang kurang lebih dialami sendiri oleh sebagian dari kita.

Sentuhan personal juga ditambahkan oleh Oppenheimer dengan menampilkan kehidupan sehari-hari ayah dan ibu Adi yang sudah berusia senja. Pada awal film, diperlihatkan bagaimana Mamak memandikan ayah Adi yang sudah sangat renta, pikun, dan butuh bantuan untuk bergerak. Ketika ditanya usia, sang ayah yang pendengarannya sudah payah, menjawab, “16 tahun”. Ketidakberdayaan ayah Adi serta ketegaran ibunya menjalani hidup membuat Senyap hampir serasa fiksi layar lebar. Namun, poin ini justru mengantarkan Senyap menjadi film sarat muatan yang mudah “dilahap” semua kalangan.

Film Senyap yang dikemas lebih ringan ketimbang Jagal, tidak membuat pesannya menjadi subtil. Seperti pendahulunya, Senyap dengan lugas menggebrak dinding yang dibangun oleh Pemerintah Orde Baru perihal fakta sejarah peristiwa 1965. Oppenheimer menampilkan narasumber, yang tanpa perasaan bersalah, menceritakan tentang bagaimana mereka terlibat dan membantai orang-orang yang disebut “para pendukung komunis”. Film Senyap juga menggarisbawahi fakta lain yang tak kalah menampar; bahwa pelaku dan korban pembantaian massal sama-sama berasal dari kalangan rakyat biasa.

Senyap adalah kisah sejarah dengan sentuhan personal yang mampu membuat penonton pulang ke rumah dengan perasaan gamang. Merenung tentang perasaan penyintas Peristiwa September 1965, tentang justifikasi atas sebuah pembantaian, dan tentang fakta sejarah yang selama ini dibelokkan rezim berkuasa. Film Senyap, juga Jagal, menjadi pengingat bahwa masih ada lubang sejarah yang ditutupi. Sebuah kekosongan yang tidak akan terisi jika masyarakat masih bungkam, pura-pura tidak tahu, atau tidak mau tahu.

Sumber foto: filmsenyap.com

Tulisan pernah dipublikasikan di infoscreening.co

Advertisements

Tentang Mbah Warti

Posted on Updated on

Semasa kecil, saya hanya ingat punya dua nenek kandung, masing-masing dari pihak ibu dan bapak. Kedua kakek kebetulan sudah meninggal ketika saya lahir.

Di buku sekolah, di lagu anak-anak, dari cerita teman, sosok kakek sering disebut. Biasanya sebagai sosok penyayang nan bijaksana. Saya yang belum pernah ketemu Mbah Kakung jadi penasaran bagaimana rasanya punya kakek.

Kedua orang tua saya berasal dari Boyolali, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Surakarta. Kata ibu yang kelahiran tahun 1954, kampung kami begitu dusun dan guyub. Ia kerap bercerita tentang masa kecilnya yang akrab dengan banyak orang, baik saudara kandung, sepupu, juga tetangga.

Ibu juga selalu berbinar-binar ketika bercerita tentang kakek saya. “Dulu bapak punya kuda putih apik tenan. Bapak juga manggil guru tari ke rumah buat anak-anak perempuannya. Kalau pulang kerja dari kelurahan, bapak suka bawa pulang permen atau kerupuk, nanti dibagi-bagi ke semua anaknya,” kata Ibu dengan semangat.

Mbah Warti adalah nenek dari ibu saya. Dari cerita nostalgia ibu, saya tahu kalau Mbah Warti menikah umur 12 tahun, seusia saya ketika masuk SMP. Kata ibu, Mbah Warti muda sungguh cantik. Tinggi semampai, senang bersolek, bajunya juga bagus-bagus.

Ibu dan Mbah Warti hanya terpaut usia 15 tahun. Sampai sekarang, mereka lebih tampak seperti kakak-adik, ketimbang ibu-anak. Saya masih lihat sisa-sisa keanggunan – juga keangkuhan – dari sosok Mbah Warti. Posturnya tegak, meski jalannya sudah payah. Ia ngotot tidak mau pakai baju sudah dibelikan anaknya. Jelek, katanya. Jika tidak berselera dengan makanan terhidang, ia akan masak sendiri atau ngeluyur jajan ke luar. Mbah Warti juga masih rajin pakai gincu merah dan bedak, walaupun keriput senjanya sudah pasti tetap tampak.

Saya yang ketika itu masih kecil sangat menikmati cerita ibu saya tentang kakek dan nenek. Kedua sosok tersebut diam-diam saya rindukan. Sosok pertama tidak sempat saya temui, sedangkan yang terakhir sangat jarang bisa bertemu.

Setelah agak besar, saya sadar kalau ada yang tumpas dari cerita ibu. Setelah masa kecil yang sederhana namun bahagia, ia selalu lompat ke masa di mana ia harus berpindah-pindah dari Boyolali ke Jombang, Lampung, sampai akhirnya Jakarta.

Perihal kematian kakek, ibu hanya pernah bilang kalau ia ikut hilang saat peristiwa 1965. Potongan cerita ini terbawa ke alam bawah sadar saya dan melahirkan sebuah rasa penasaran yang dalam.

Saya kemudian tumbuh besar dengan sejumlah bacaan yang mengambil latar Indonesia tahun 1960-an. Dari bacaan-bacaan tersebut, saya jadi tahu kalau di era 1960-an, Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai Bali adalah basis Partai Komunis Indonesia. Keanggotaan partai disusun sampai ke tingkat grassroot. Warga desa mulai aktif berkumpul dan berorganisasi dengan sederhana.

Tahun 2012 film dokumenter besutan Joshua Oppenheimer berjudul Jagal: The Act of Killing dirilis. Sekuelnya, Senyap: The Look of Silence, yang hanya dipertontonkan secara alternatif, diluncurkan tahun 2014 silam.

Saya sempat membuat review sederhana tentang film Senyap dan memandu tanya jawab singkat dengan mereka yang bersentuhan langsung dengan peristiwa G30S di sebuah pemutaran tertutup yang diadakan infoscreening.

Sepulangnya, saya bercerita kepada ibu tentang film tersebut. “Apa kata pembunuhnya?” tanya ibu dengan dahi berkerut setelah saya bilang kalau Senyap menampilkan wawancara dengan para algojo 1965.

Setelah saya selesai menceritakan film Senyap, ibu menyambung potongan cerita masa kecilnya. Potongan cerita yang akhirnya menutup lubang penasaran di benak saya.

“Sebenarnya, bapak dulu ikut PKI. Seingat ibu, bapak suka rapat. Tapi tidak ada hal-hal negatif yang dilakukan, kampung aman, tidak ada kejadian apa-apa sampai waktunya kerusuhan,” ungkap ibu.

“Bapak diculik orang saat pulang dari kelurahan. Beberapa kerabat pergi mencari, tapi nihil. Beberapa hari setelah bapak hilang, sekumpulan orang datang ke rumah, mereka mengambil kotak berisi uang simpanan, lukisan, dan semua yang berharga,” lanjut ibu.

Kemudian cerita ibu sampai ke bagian paling menyayat, “Ibu lihat Mbah Warti kasihan sekali waktu itu, malam-malam ia menggali tanah di belakang rumah, menimbun beras dilapis daun pisang supaya anak-anaknya tetap bisa makan.”

Di masa-masa “pembersihan”, ibu yang saat itu masih kecil juga melihat langsung bagaimana teror dan ketakutan sengaja disebar.

“Pemuda-pemuda itu baris-berbaris keliling kampung dengan seragam dan senjatanya yang mengerikan,” kata ibu.

“Ibu lihat sendiri, ada pak guru yang diikat tubuhnya ke bagian belakang truk, lalu diseret hidup-hidup sepanjang jalan menuju lokasi penjagalan,” lanjut Ibu.

Setelah peristiwa itu, Mbah Warti bersama ribuan istri lain di Indonesia, resmi menjadi janda. Mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan, berjualan apapun yang bisa dijual, demi anak-anak yang terpaksa ditinggalkan ayahnya lebih cepat.

Sekarang Mbah Warti tinggal di Jombang, ikut dengan salah satu adik ibu. Setahun sekali, ia main ke rumah saya selama beberapa minggu. Ia senang sekali jika ada cucunya yang memberi uang, walaupun jumlahnya tidak banyak. Dengan uang yang tidak seberapa itu, ia bisa jajan bubur atau lontong sayur kesukaannya.

Tahun ini, usia Mbah Warti 76 tahun. Jalannya sudah tertatih-tatih, tapi tetap bersemangat jika melihat cicitnya yang tinggal di rumah keluarga kami. Kepada saya, ia sering bertanya basa-basi dengan bahasa Jawa. Kalau dengan Mbah Warti, saya senang mencium tangan seraya pamit. Alasannya simpel, karena bisa meraba keriput di jarinya.

Tulisan ini adalah ungkapan terima kasih, kekaguman, serta penghargaan untuk Mbah Warti, nenek saya yang menjanda sejak usia 20-an, namun pernah menikah lagi, tidak lancar Bahasa Indonesia, tidak bersekolah, namun bisa menghidupi  anak-anaknya.

Juga sebagai pengingat peristiwa 1965 yang belakangan mulai dilupakan (lagi).

Pintu

Posted on Updated on

Banyak bertemu pintu di Semarang. Sebagian boleh diketuk, sebagian lagi tidak bisa diketuk.

Dua berikut ini ada di Lawang Sewu.

Pintu Lawang Sewu
Lawang yang katanya ada “sewu”.
Ruang rapat di Lawang Sweu
“I can see you.”

Kalau ini ada di Klenteng Sam Poo Kong

Pintu di kuil Sam Poo Kong Semarang
Red for luck. Yellow for glory.

Salah satu pintu di Gereja Blendhuk

Salah satu pintu di Gereja Blenduk.
Mirip coklat putih batangan.

“If opportunity doesn’t knock, build a door.” [Milton Berle]

Derawan: Is She Really Beautiful?

Posted on Updated on

maratua pier

Now that travelling is a part of lifestyle, word of mouth is playing its part to boost popularity of Derawan Islands. This exotic area consists of Derawan, Maratua, Kakaban, Nabucco, and Sangalaki as the main island. If you travel from Jakarta, this group of islands is definitely a cheaper beach-holiday alternative compared to Maluku, Raja Ampat, or Komodo Island. Don’t worry if you are not a diver. When its extraordinarily stunning underwater beauty doesn’t get you, then the hospitality and breath-taking sceneries most certainly will. Here, I will not elaborate how to get there, how much it costs, or how to make the best of your Derawan adventure because those travel writers have done them perfectly well. I would like to give you, traveler or tourist (whichever you think you are), a bigger picture of East Borneo’s tourism pearl beads.

Derawan is no longer a secret paradise

Let’s start with a little research about Derawan before starting the journey. Enter “Derawan”, “travelling”, “what to do” as keywords, then you will get plenty convincing articles written both in English or Bahasa Indonesia about how perfectly appealing this destination is. Wide range of amazing reefs and coral garden, friendly sea turtles swim around the jetty, slow day-pace of tranquil remote island and other extra dash of tropical heaven.

“Manage your expectation”, they said. Unfortunately, I didn’t. Soon after I hop off the boat, the image of perfect tropical paradise sunk. Plastic, clothes, and wood garbage are scattered along the shore. Not that much, actually. But sure it leads an instant turn-off. This is a result of affordable and easy access from Berau to Derawan island. Most of the visitors, especially local tourists, choose to spend the night here because more guesthouse, restaurant, and souvenir shop are available. The thing is: It’s not a secret that local tourists are lack of environmental awareness. Take 5-minute walk inside the village, marching trash parade will accompany you along the way. Not far from this view, only 5 minutes slow boat-ride away, lives the endangered green sea turtle species. This innocent-looked animal holds a key role of environment. Sea turtle is one of those rare creatures that dive down to sea floor and eat sea grass. This marine flowering plant needs to be cut naturally in order to grow and create healthy sea beds. On widespread sea grass, numerous marine species rely their lives. Without supporting habitat, fish, crustacean, and seashell would lose food and breeding place. Food chain ruined and human sea-harvest would be lost. Thus, endangered status of sea turtle will eventually means a vivid threat to ecosystem.

derawan shore
Tourism attracts plastic trash

The irony hasn’t finished yet. Derawan plays important role in migration route of sea turtle. Rich coral reefs and sloppily warm sand is perfect for resting, nesting, and hatching. In fact, there are 7 sea turtle species in the world and 6 of them live in Indonesian water. Tourism development in Derawan has contributed a drastic change in sea turtle habitat. Overly-expanding lodgings along the coast has caused a major loss of sea turtle nest. As the number of sea turtle is dramatically declining every year, this ocean explorer is included in CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) of wild flora and fauna. As a result, sea turtle and its body part trading obviously illegal. In Derawan Island, “Save sea turtle!” is written everywhere. But not far from the signs, you can see handicrafts made from turtle shell are openly sold in souvenir shops. Bracelets and rings made from Hawksbill’s brownish-gold shell are displayed, waiting for jewelry hunter to buy.

Maratua, the next land to fight over

Let’s move to another island. Maratua is an island which not many Indonesians in the know about. Located in off-shore of East Borneo, it’s a smart lodging alternative if you pay a visit to Derawan. As people say, the harder to get, the more it’s worth. Ivory-white sand, uber-clean shore, turquoise-clear water, and the promise of serenity awaits you in Maratua. We have no problem about garbage in this island. Maratua Paradise Resort, which is run by Malaysian corporate, keeps maintaining eco-friendly environment by cleaning the shore from plastic and wood garbage. People of Maratua lives quite far from the beach. As natives, they know how to preserve their land at its best.

Maratua island is home for 3.000 families, dominated by Bajao tribe. Hawksbill sea turtles choose to stay around this island. When the sun sets, they swim calmly nearby the dock. Take a breath on the surface, then go back inside the caressing dusk ocean. For over centuries, this island has remained unspoiled. People of Maratua, working together with NGOs, have been developing eco-friendly tourism concept. The words of conserving nature has been widely spread and understood.

So, what is the real problem of Maratua? This island lies closely to the border of Indonesia – Malaysia. Being one of the “porch” point, Maratua most likely to be the next border dispute between two countries. Regarding this issue, Indonesian government has decided to build an air-force military base including a small airport in Maratua. It is a precautionary action to help national troops land a jet directly when real war happens. In October 2013, heavy construction material has arrived in this U-shaped island, followed by a massive deforestation.

maratua shore pixlr
Shore of Maratua, before construction

Bottomline

Turns out, not long after ranked as one of Indonesia’s secret paradise, Derawan has been heavily exposed and invited flood of irresponsible local tourists. Seems not worse enough, an unnecessary border confrontation threats environmental sustainability. This writing is only a glance of ugly truth about tourism in Derawan. In point of fact, every exotic tourist spot has its own bitter story. Blaming government, local tourist, or foreign investor will do nothing. Responsible attitude is needed. Starts from bringing your own tumbler, stop touching sea turtle, not littering, and not buying any illegal souvenirs.

Permadani Tenunan Tuhan

Posted on Updated on

Di balik kawah Bromo yang batuk rejan, ada permadani ditenun Tuhan.

100_3356 p

Alam terkembang tempat berguru,  dimana fantasi dan realita saling bertumpu.

100_3355 p
Anginnya harum…

Bromo yang abu-abu seolah memberi tahu agar tak hitam-putih memandang hidup.

100_3283 pix

Mari bersama-sama memaknai rasa. Agar perjalanan tak sekedar pembuktian belaka.

 

Siesta: Ketika Tidur Siang Jadi Budaya

Posted on Updated on

DSC_0735
Cute Fridge Magnets!

Ketika berkunjung ke Spanyol, jangan heran jika banyak toko yang mendadak tutup di siang hari. Jalan-jalan menjadi sepi dan semua orang berada di dalam rumah. “Kehidupan” baru akan dimulai kembali pada pukul 4 sore. Siklus unik ini disebabkan oleh tradisi bernama siesta yang berarti tidur siang. Meski telah berusia berabad-abad, siesta tetap tidak ditinggalkan oleh orang Spanyol. Penyebabnya antara lain faktor geografis berupa udara yang panas dan porsi makan siang yang besar. Kedua faktor tersebut kemudian menyebabkan post-lunch drowsiness atau gejala mengantuk setelah makan siang.

Sebuah penelitian OECD menyebutkan bahwa 2 dari 3 orang Spanyol memiliki kelebihan berat badan. Bagaimana tidak? Full course meal di Spanyol terdiri dari appetizer, main course dan dessert yang mengandung banyak karbohidrat dan lemak.  Seperti makanan Indonesia yang kaya akan kalori, menu makanan Spanyol juga didominasi oleh nasi, roti, kentang, kacang-kacangan dan daging.

Tradisi siesta tetap bertahan hingga saat ini karena pada dasarnya siesta adalah waktu istirahat untuk para pekerja. Mereka dipersilakan pulang ke rumah dan menyantap makan siang bersama keluarga atau teman-teman. Setelah siesta berakhir, semua orang dapat kembali beraktivitas. Total waktu produktif dengan siesta lebih panjang daripada bekerja non-stop dari pukul 8 pagi hingga 5 sore, sehingga kebanyakan kegiatan usaha di Spanyol masih menerapkan konsep ini. Selain itu, sinar ultra-violet berada di puncaknya ketika jam siesta berlangsung. Bahaya jika memaksakan diri untuk beraktivitas di luar pun tidak main-main. Ada resiko kulit terbakar, dehidrasi, hyperthermia, hingga kanker kulit.

Terkait siesta, berikut ini adalah beberapa tips ketika berada di Spanyol:

  • Waktu siesta di Spanyol untuk bisnis (perkantoran atau pertokoan) dimulai pada pukul 2 siang hingga pukul 4 sore. Sedangkan untuk bar dan restoran, waktu siesta dimulai pada pukul 4 sore hingga pukul 8 malam. Jadi tidak perlu khawatir untuk kesulitan mencari tempat makan di siang hari.
  • Jika tidak sedang di pusat perbelanjaan atau tourist site, sebaiknya jangan memaksakan untuk berjalan-jalan di siang hari untuk mencari toko yang buka. Selain buang-buang waktu, udara panasnya dapat menyebabkan penduduk tropis seperti orang Indonesia sekalipun terkena heatstroke. Untuk keadaan darurat, biasanya convinience store dan supermarket tetap buka pada waktu siesta.
  • Makan siang dengan porsi yang cukup banyak. Spanyol memiliki waktu makan yang cukup rigid. Pada pagi hari, bar mulai buka pada pukul 7 pagi dan kebanyakan makanan telah habis sekitar pukul 9-10 pagi. Makan siang dimulai sekitar pukul 1 dan restoran pada umunya baru akan buka kembali pukul 9 malam. Restoran-restoran ini akan terus menyediakan makanan hingga tengah malam. Jeda antara makan siang dan makan malam yang cukup panjang harus disiasati dengan makan siang dengan porsi besar atau menyediakan kudapan untuk mengganjal perut.
  • Ingin minum-minum di bar? Jangan datang sebelum pukul 10 malam or you’ll be drinking alone.
  • Ikutlah beristirahat pada waktu siesta. Spanyol merupakan negara yang justru “hidup” di malam hari. Bukan pemandangan yang aneh jika anak-anak dan lansia masih terlihat berjalan-jalan pada pukul 11 malam.

Dua-tiga hari pertama tiba di Spanyol, saya menyempatkan untuk jalan-jalan di waktu siesta. Habis, kapan lagi bisa ke Spanyol? Ketika itu panasnya sekitar 40 derajat Celsius. Saya dan teman-teman pergi melihat-lihat dengan berjalan kaki. Mampir ke ATM dan convinence store untuk sekedar jajan es krim, cemilan, dan air mineral dingin. Merasakan teriknya matahari yang dipantulkan gedung-gedung berwana krem membuat saya membayangkan lagu Maria-nya Carlos Santana.

I said a la favella los colores
The streets are getting hotter
There is no water to put out the fire
Mi canto la esperanza

DSC_0641

*Prawita Indah was in Vila-real (Castellon Province), Spain at the end of August 2012. Although summer was almost over, she’s nearly evaporated by sexy heat of the city.

Happy Tummy in Spain

Posted on Updated on

“Food is our common ground, a universal experience.”
-James Beard (1903-1985), American chef and food writer

A week in Spain, full course meals are served by the waiter and waitress.
Need something? Just wave your hand.
For someone who washes my own dish, I feel like a queen.

They provide us international food with Spanish touch.
How does it taste?
Very well. Pour ketchup liberally then it goes perfect.

Appetizing asparagus
Asparagus and tuna salad are lovebirds on your plate
Chips and Chicks
Chicks and Chips
Sometimes, rice could be in appetizer set. I call it appericer.
Sometimes, rice could be in appetizer set.
Classic Caesar Salad
Classic Caesar Salad
Nasi Ceplok Telor Saos Tomat. It's so awkward to eat it with knife and fork.
Nasi Ceplok Telor Saos Tomat. It’s so awkward to eat them using knife and fork.

From several European countries I’ve traveled, Spain is the only place where I can eat happily everyday.
Though it’s high on carbs, the foods are well-seasoned. You know, Asians always find western food plain and flavorless.

Estaba delicioso!
Always remember to eat well and travel often, people!